Salah satu hal yang saya kagumi dari sebuah kota adalah lampu lalu
lintasnya. Cahayanya terdiri dari tiga: warna: merah, kuning dan hijau. Di
jalanan kota, lampu itu menjadi pengendali atas jalanan yang begitu padat dan
ramai oleh suara knalpot dan seumpah serapah sopir angkutan.
Namun, banyak hal
yang saya benci dari kota. Dari pola pikir mereka saya merasa ada suatu
ganjalan yang membuat saya tidak nyaman dengan pola pikir mereka. Bagi mereka,
kemajuan adalah suatu kewajiban yang harus dipenuhi walau harus mengibaskan
kemanusiaan. Seolah kemajuan adalah kuda sumba yang berlari kencang tanpa kenal
ampun, menggilas semua yang menghalanginya.
Saya akui bahwa
kemajuan zaman adalah tren yang positif. Bergerak dari nol menuju satu, satu
menuju dua dan seterusnya. Niatan bagus? Saya memahaminya. Tapi kemajuan zaman
terkadang menuntun kita menjadi sebuah spesies yang merasa berhak melakukan apa
saja di muka bumi ini.
Kemajuan sering
kali diartikan sebuah jalan raya yang panjang dengan deretan lampu-lampu jalan
dan gedung-gedung pencakar langit yang berada di sebelahnya, restoran cepat
saji hasil impor, lelaki yang mengenakan jas di setiap pagi ataupun
wanita-wanita obralan di sudut-sudut hitam. Bukankah masih banyak lagi yang
harus disebutkan? Bukankah mereka adalah pembangun peradaban? Peradaban sialan?
Darimana asal semua itu?
Ayolah kita pikir
sekali lagi, bukankah untuk membangun sebuah gedung, mereka harus meratakan
sebuah bukit atau gunung; untuk mencetak berribu-ribu poster kampanye sialan,
mereka harus menggunduli hutan; untuk membuat jari mereka mengkilap oleh
kilauan emas, mereka harus melubangi bumi?
Lihatlah,
pekerjaan itu selalu dilakukan oleh orang-orang yang berada di luar kota. Orang
kota hanya bisa tahu hasil akhir dengan kekosongan pengetahuan akan prosesnya.
Orang-orang kota melompati proses kotor dan langsung menuju proses konsumsi dan
selalu merasa menampilkan watak konsumtifnya sebagai kebenaran.
Kota adalah sebuah
tempat yang penuh dengan hal-hal berbau irasional. Meraka merasa menjadi
makhluk yang paling berkuasa, paling benar. Mereka selalu saja membuat sebuah
kebijakan yang selalu menguntungkan mereka. Mereka terkesan ingin menguasai
semesta dengan memaksakan ijin pembangunan industri di wilayah produktif
pertanian ataupun perkebunan.
Mereka juga
seoalh-olah menjadi makhluk penuh kasih sayang yang hanya dengan berbekal
tindakan pembagian hewan kurban, sumbangan anak yatim ataupun zakat yang
sengaja diliput oleh media. Tak ada yang tahu apakah mereka memang ingin
mengasihi sesama atau ingin terkenal sebagi orang yang paling dermawan di muka
bumi.
Saya ingin
menyalahkan idelogi kampret itu, kapitalisme. Saya muak dengan kapitalisme yang
digaung-gaungkan masyarakat kota. Ideologi itu membuat manusia layaknya menjadi
hewan buas yang selalu lapar meskipun telah memakan gunung-gunung tinggi.
Dengan ideologi ini, masyarakat kota selalu melihat sesuatu dengan harga,
bandrol yang menempel padanya. Semua dikuru oleh nominal yang seakan telah
dituhankan.
Pokoknya saya muak
dengan kehidupan orang kota.

Comments
Post a Comment