Saya Muak dengan Kota


Salah satu hal yang saya kagumi dari sebuah kota adalah lampu lalu lintasnya. Cahayanya terdiri dari tiga: warna: merah, kuning dan hijau. Di jalanan kota, lampu itu menjadi pengendali atas jalanan yang begitu padat dan ramai oleh suara knalpot dan seumpah serapah sopir angkutan.
Keramaian kota yang ramai | Efek suara templat MP3 Unduhan gratis ...
            Namun, banyak hal yang saya benci dari kota. Dari pola pikir mereka saya merasa ada suatu ganjalan yang membuat saya tidak nyaman dengan pola pikir mereka. Bagi mereka, kemajuan adalah suatu kewajiban yang harus dipenuhi walau harus mengibaskan kemanusiaan. Seolah kemajuan adalah kuda sumba yang berlari kencang tanpa kenal ampun, menggilas semua yang menghalanginya.
            Saya akui bahwa kemajuan zaman adalah tren yang positif. Bergerak dari nol menuju satu, satu menuju dua dan seterusnya. Niatan bagus? Saya memahaminya. Tapi kemajuan zaman terkadang menuntun kita menjadi sebuah spesies yang merasa berhak melakukan apa saja di muka bumi ini.
            Kemajuan sering kali diartikan sebuah jalan raya yang panjang dengan deretan lampu-lampu jalan dan gedung-gedung pencakar langit yang berada di sebelahnya, restoran cepat saji hasil impor, lelaki yang mengenakan jas di setiap pagi ataupun wanita-wanita obralan di sudut-sudut hitam. Bukankah masih banyak lagi yang harus disebutkan? Bukankah mereka adalah pembangun peradaban? Peradaban sialan? Darimana asal semua itu?
            Ayolah kita pikir sekali lagi, bukankah untuk membangun sebuah gedung, mereka harus meratakan sebuah bukit atau gunung; untuk mencetak berribu-ribu poster kampanye sialan, mereka harus menggunduli hutan; untuk membuat jari mereka mengkilap oleh kilauan emas, mereka harus melubangi bumi?
            Lihatlah, pekerjaan itu selalu dilakukan oleh orang-orang yang berada di luar kota. Orang kota hanya bisa tahu hasil akhir dengan kekosongan pengetahuan akan prosesnya. Orang-orang kota melompati proses kotor dan langsung menuju proses konsumsi dan selalu merasa menampilkan watak konsumtifnya sebagai kebenaran.
            Kota adalah sebuah tempat yang penuh dengan hal-hal berbau irasional. Meraka merasa menjadi makhluk yang paling berkuasa, paling benar. Mereka selalu saja membuat sebuah kebijakan yang selalu menguntungkan mereka. Mereka terkesan ingin menguasai semesta dengan memaksakan ijin pembangunan industri di wilayah produktif pertanian ataupun perkebunan.
            Mereka juga seoalh-olah menjadi makhluk penuh kasih sayang yang hanya dengan berbekal tindakan pembagian hewan kurban, sumbangan anak yatim ataupun zakat yang sengaja diliput oleh media. Tak ada yang tahu apakah mereka memang ingin mengasihi sesama atau ingin terkenal sebagi orang yang paling dermawan di muka bumi.
            Saya ingin menyalahkan idelogi kampret itu, kapitalisme. Saya muak dengan kapitalisme yang digaung-gaungkan masyarakat kota. Ideologi itu membuat manusia layaknya menjadi hewan buas yang selalu lapar meskipun telah memakan gunung-gunung tinggi. Dengan ideologi ini, masyarakat kota selalu melihat sesuatu dengan harga, bandrol yang menempel padanya. Semua dikuru oleh nominal yang seakan telah dituhankan.
            Pokoknya saya muak dengan kehidupan orang kota.

Comments