Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengatakan “Sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yg berhubungan dng pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.”
Namun, jika kita
melihat realita yang ada pada masa ini, tentu saja terdapat sebuah kejanggalan
terhadap perspektif agama oleh KBBI. Kita melihat agama tidak dimaknai dengan
sebenarnya. Agama seolah menjadi kata yang tak akan mampu untuk didefinisikan.
Sebagian orang menganggap agama sebagai pakaian untuk mencari rupiah. Tentu saja pemahaman ini timbul dari perilaku orang-orang dalam masyarakat kita yang menjadikan agama sebagai panggung untuk menunjukkan bakatnya dengan bersilat lidah. Tentunya hal ini dibarengi dengan pakaian putih yang besar, sebab dengan itu akan memudahkan proses penipuan masyarakat kita. Agama hanyalah sebatas panggung dengan busana putih untuk mencari uang.
Sebagian lain menganggap agama sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Entah itu tujuan politik atau tidak. Sebab, agama sebagai dasar akan cepat
merubah pandangan pemeluknya. Cukuplah mencari ayat-ayat yang mendukung
tindakan manuver politik golongan sebatas dengan terjemah literatis dengan
tanpa memerhatikan kaidah penafsiran, maka ayat itu bisa kau gunakan sebagai
ujung tombak seluruh manuver politikmu. Orang-orang yang melawanmu cukup kau
teriaki “Dasar penista agama!”
Sebagian golongan
yang mengikuti marxisme malah menganggap agama sebagai candu. Hal ini berawal
dari statement Karl Marx yang berbunyi “Religion ist dast opium des volkes”.
Bisa jadi orang-orang seperti ini kecewa terhadap segala penyelewengan agama.
Golongan lain menganggap agama adalah kekerasan. Hal ini timbul dari sikap kaum yang sangat keras dalam beragama. Melaksanakan apa yang dinamakan amar ma’ruf nahi munkar dengan tidak melirik konsep kemanusiaan membuatnya menjadi seorang yang brutal. Oleh sebab itu sering kali agama dihubungkan dengan pedang, pistol, molotov ataupun peperangan.
Golongan lain menganggap agama adalah kekerasan. Hal ini timbul dari sikap kaum yang sangat keras dalam beragama. Melaksanakan apa yang dinamakan amar ma’ruf nahi munkar dengan tidak melirik konsep kemanusiaan membuatnya menjadi seorang yang brutal. Oleh sebab itu sering kali agama dihubungkan dengan pedang, pistol, molotov ataupun peperangan.
Jujur saja itu
adalah beberapa pandangan tentang agama dan itu hanyalah sebagian kecil yang
penulis katakan. Secara pribadi, penulis menganggap agama ya agama.
Tidak ada satupun kata yang pas untuk mewakili semua elemen yang ada di
dalamnya. Mungkin beberapa kata seperti kasih sayang mampu untuk mewakilinya
dalam cakupan yang lebih kecil. Tentunya penulis mempunyai harapan bahwa masyarakat
kita akan mengamalkan agama dengan murni apa yang diajarkannya. Mungkin
definisi KBBI bisa mewakilinya.

Comments
Post a Comment