Tonjokan bambu yang berakit dan teranyam itu jauh dari kata baik.
Penerangan seadanya, makanan sedapatnya, dan reot gerdin kasur yang berderit-derit.
Di dalamnya, dua wanita tua saling memijit dengan hahahihi yang sudah tak lagi bergigi.
Gelegak tawanya memenuhi seluruh sudut bilik berukuran 6×6 itu.
Tempat tidur mereka, juga ruang bercengkrama dengan tetangga dan juga kepul asap dari kayu bakar bercampur aduk jadi satu di bilik itu.
Sebut saja mbok nah, yang dari dulu sudah hidup berdua dengan temannya yang sama sepuhnya juga. Kesehariannya selalu didepan tungku untuk menanak nasi, meski pandangannya sudah tak lagi normal, tapi semangat beliau dalam membantu orang tak pernah pudar.
"Jika hujan gimana mbok?"
Tanyaku sedikit memberanikan diri.
"Genteng ki podo nerembes kabeh nduk, podo jemek kabeh, rawani mudun, kepreset dadi gawe"
(Atap ini bocor semua nak, pada basah semua, tidak berani turun, nanti tergelincir malah jadi urusan panjang)
Aku menelan ludah, ternyata benar. Lantainya memang tidak berubin. Melainkan hanya pasir yang sudah membeku dan tatanan batako yang sudah lagi tak berbentuk.
Tak terbayangkan bagaimana dinginnya ketika hujan merintik pada malam hari.
Tak terbayangkan pula bagaimana jika angin berhasil merebut rumah
kesayangan mereka.
Semoga suatu saat nanti akan datang orang baik yang mampu membawa mereka jauh lebih bahagia dari sebelumnya.
Bersyukur itu sangat penting.
ingat, semuanya hanyalah titipan dari tuhan. Yang sewaktu-waktu bisa di ambilnya kembali. Manusia hanyalah wayang, yang sejatinya wayang tidak akan bergerak jika sang dalang tak mengizinkannya untuk bergerak.
Di atas langit masih ada langit. Perihal harta jangan terus menerus menatap ke atas. Namun lihatlah kebawah, masih banyak saudara-saudara kita yang perlu santunan dan kasih sayang, masih banyak saudara-saudara kita yang seharusnya merasakan nikmatnya bangku pendidikan, namun terhalang oleh keadaan.
Penerangan seadanya, makanan sedapatnya, dan reot gerdin kasur yang berderit-derit.
Di dalamnya, dua wanita tua saling memijit dengan hahahihi yang sudah tak lagi bergigi.
Gelegak tawanya memenuhi seluruh sudut bilik berukuran 6×6 itu.
Tempat tidur mereka, juga ruang bercengkrama dengan tetangga dan juga kepul asap dari kayu bakar bercampur aduk jadi satu di bilik itu.
Sebut saja mbok nah, yang dari dulu sudah hidup berdua dengan temannya yang sama sepuhnya juga. Kesehariannya selalu didepan tungku untuk menanak nasi, meski pandangannya sudah tak lagi normal, tapi semangat beliau dalam membantu orang tak pernah pudar.
"Jika hujan gimana mbok?"
Tanyaku sedikit memberanikan diri.
"Genteng ki podo nerembes kabeh nduk, podo jemek kabeh, rawani mudun, kepreset dadi gawe"
(Atap ini bocor semua nak, pada basah semua, tidak berani turun, nanti tergelincir malah jadi urusan panjang)
Aku menelan ludah, ternyata benar. Lantainya memang tidak berubin. Melainkan hanya pasir yang sudah membeku dan tatanan batako yang sudah lagi tak berbentuk.
Tak terbayangkan bagaimana dinginnya ketika hujan merintik pada malam hari.
Tak terbayangkan pula bagaimana jika angin berhasil merebut rumah
kesayangan mereka.
Semoga suatu saat nanti akan datang orang baik yang mampu membawa mereka jauh lebih bahagia dari sebelumnya.
Bersyukur itu sangat penting.
ingat, semuanya hanyalah titipan dari tuhan. Yang sewaktu-waktu bisa di ambilnya kembali. Manusia hanyalah wayang, yang sejatinya wayang tidak akan bergerak jika sang dalang tak mengizinkannya untuk bergerak.
Di atas langit masih ada langit. Perihal harta jangan terus menerus menatap ke atas. Namun lihatlah kebawah, masih banyak saudara-saudara kita yang perlu santunan dan kasih sayang, masih banyak saudara-saudara kita yang seharusnya merasakan nikmatnya bangku pendidikan, namun terhalang oleh keadaan.
Comments
Post a Comment