Persamaan Ramadan Tahun Ini


       
Jadwal Imsak Dan Buka Puasa Jakarta Hari Ini Ramadhan 2020

Sumber: mamikos.com
Ramadan tahun ini sangat terasa berbeda dengan ramadan sebelum-sebelumnya. Terjadinya wabah pandemi telah merubah aktifitas-aktifitas pada bulan suci kali ini. Jujur saja, saya sendiri jarang sekali pada ramadan kali ini menemukan suara-suara petasan atau tawa anak kecil yang berlarian ketika malam tiba. Dan suara tadarus di masjid atau langgar tidak diperkenankan lagi menggunakan pengeras suara.  
            Ramadan memang selalu menebarkan pesona jauh-jauh hari sebelum kita memasukinya. Ramadan tidak hanya dinantikan oleh orang-orang yang memang seorang agamis tulen, melainkan juga oleh orang-orang yang ingin memasuki Ramadan demi nilai-nilai lain yang sebenarnya akan berdampak negatif. Hal ini dapat kita lihat dari fenomena yang biasa disebut dengan Ramadantainment.


Ramadantainment seolah membuat dinding besar yang membedakan antara kualitas mental seseorang ketika bulan suci ini menyapa kita. Ramadan tidak lagi ditafsirkan sebagai bulan suci lagi, melainkan hanya sekedar bulan mencari sensasi. Ramadan tidak lagi dianggap sakral, sebab sebagian orang memanfaatkannya hanya demi kepentingan komersial.
            Biasanya, model masyarakat kita yang mempunyai tipikal seperti ini dapat kita lihat dari cara mereka beribadah. Media sosial sering kali menjadi lahan pamer pahala mereka. Tak cukup bagi mereka amal perbuatan dicatat oleh malaikat yang berada di kanan dan kiri, melainkan harus mereka catat juga dalam jejaring sosial. Kebanyakan dari mereka berasal dari golongan yang sebenarnya mempunyai pengetahuan tentang agama yang rendah.
            Fenomena Ramadantainment juga bisa kita lihat dari stasiun TV yang memanfaatkan momen ini untuk mencari keuntungan material. Berbagai stasiun TV berlomba-lomba meng-islamkan acara-acaranya. Mulailah bermunculan komedian, selebritis, artis atau ustadz selebriti yang berebut jam tayang dengan melakukan pengislaman terhadap acaranya. Artis-artis wanita yang biasanya tampil vulgar dengan busana minim kini diwawancarai perihal mengapa ia mengenakan hijab? Seolah-olah Ramadan adalah momentum yang pas untuk berkata “Ibadah saya juga gak kalah dengan yang lain. Lihatlah saya ini, apakah keislaman saya masih diragukan?”   
Puasa kini juga seolah berganti makna. Makna puasa yang sebenarnya adalah menahan nafsu jelek telah berubah menjadi sekedar diet. Bahkan sebagian orang terlihat sangat konsumtif pada bulan Ramadan dibanding bulan-bulan selainnya. Mereka menjalani puasa dengan sahur makan ini makan itu. Ramadan bagi mereka tidak dimaknai sebagai mengekang nafsu ataupun sekedar merasakan penderitaan orang yang tidak mampu, melainkan hanya sebatas bagaiman tidak makan dan minum mulai terbitnya fajar sampai adzan maghrib.
            Ramadan bagi sebagian orang memang terlihat memuakkan dengan berbagai faktor didalamnya. Dan ini adalah sebuah kesamaan Ramadan kali ini dengan Ramadan-Ramadan sebelumnya. Kesamaan ini seolah membentuk sebuah pola yang tak berhenti lajunya. Pola ini merupakan hasil dari kemunduran mental dari masyarakat kita. Dan kapankah pola ini bisa berhenti? Mungkin kita harus sedikit mengingat salah satu bait puisi dari Chairil Anwar, “Aku mau hidup seribu tahun lagi.” 
Omah Wetan, 10 Mei 2020

Comments