Sumber: mamikos.com
Ramadan tahun ini sangat terasa berbeda dengan ramadan
sebelum-sebelumnya. Terjadinya wabah pandemi telah merubah aktifitas-aktifitas
pada bulan suci kali ini. Jujur saja, saya sendiri jarang sekali pada ramadan
kali ini menemukan suara-suara petasan atau tawa anak kecil yang berlarian
ketika malam tiba. Dan suara tadarus di masjid atau langgar tidak
diperkenankan lagi menggunakan pengeras suara.
Ramadan memang
selalu menebarkan pesona jauh-jauh hari sebelum kita memasukinya. Ramadan tidak
hanya dinantikan oleh orang-orang yang memang seorang agamis tulen, melainkan
juga oleh orang-orang yang ingin memasuki Ramadan demi nilai-nilai lain yang
sebenarnya akan berdampak negatif. Hal ini dapat kita lihat dari fenomena yang
biasa disebut dengan Ramadantainment.
Ramadantainment
seolah membuat dinding besar yang membedakan antara kualitas mental
seseorang ketika bulan suci ini menyapa kita. Ramadan tidak lagi ditafsirkan
sebagai bulan suci lagi, melainkan hanya sekedar bulan mencari sensasi. Ramadan
tidak lagi dianggap sakral, sebab sebagian orang memanfaatkannya hanya demi
kepentingan komersial.
Biasanya, model
masyarakat kita yang mempunyai tipikal seperti ini dapat kita lihat dari cara
mereka beribadah. Media sosial sering kali menjadi lahan pamer pahala mereka.
Tak cukup bagi mereka amal perbuatan dicatat oleh malaikat yang berada di kanan
dan kiri, melainkan harus mereka catat juga dalam jejaring sosial. Kebanyakan
dari mereka berasal dari golongan yang sebenarnya mempunyai pengetahuan tentang
agama yang rendah.
Fenomena Ramadantainment
juga bisa kita lihat dari stasiun TV yang memanfaatkan momen ini untuk
mencari keuntungan material. Berbagai stasiun TV berlomba-lomba meng-islamkan
acara-acaranya. Mulailah bermunculan komedian, selebritis, artis atau ustadz
selebriti yang berebut jam tayang dengan melakukan pengislaman terhadap
acaranya. Artis-artis wanita yang biasanya tampil vulgar dengan busana minim
kini diwawancarai perihal mengapa ia mengenakan hijab? Seolah-olah Ramadan
adalah momentum yang pas untuk berkata “Ibadah saya juga gak kalah dengan yang
lain. Lihatlah saya ini, apakah keislaman saya masih diragukan?”
Puasa kini juga seolah berganti makna. Makna puasa yang sebenarnya
adalah menahan nafsu jelek telah berubah menjadi sekedar diet. Bahkan sebagian
orang terlihat sangat konsumtif pada bulan Ramadan dibanding bulan-bulan
selainnya. Mereka menjalani puasa dengan sahur makan ini makan itu.
Ramadan bagi mereka tidak dimaknai sebagai mengekang nafsu ataupun sekedar
merasakan penderitaan orang yang tidak mampu, melainkan hanya sebatas bagaiman
tidak makan dan minum mulai terbitnya fajar sampai adzan maghrib.
Ramadan bagi
sebagian orang memang terlihat memuakkan dengan berbagai faktor didalamnya. Dan
ini adalah sebuah kesamaan Ramadan kali ini dengan Ramadan-Ramadan sebelumnya.
Kesamaan ini seolah membentuk sebuah pola yang tak berhenti lajunya. Pola ini
merupakan hasil dari kemunduran mental dari masyarakat kita. Dan kapankah pola
ini bisa berhenti? Mungkin kita harus sedikit mengingat salah satu bait puisi
dari Chairil Anwar, “Aku mau hidup seribu tahun lagi.”
Omah Wetan, 10 Mei 2020
Comments
Post a Comment