Pendekatan Konflik dan Fungsional dalam Penciptaan Adam


Mengapa Tuhan menciotakan manusia yang selalu saja membuat kerusakan di muka bumi?
             Itulah pertanyaan yang sering kali muncul di masyarakat kita. Berkali-kali terdengar oleh kedua telinga saya pertanyaan yang mirip dengan itu. Tentunya pertanyaan seperti ini muncul dari sebuah proses pengamatan kepada tingkah laku manusi dalam sejarah dunia. Manusia yang sering melakukan aksi amoral, dimulai dari mencuri, korupsi, suap, memakan sesama, menumpahkan darah demi tujuan yang salah atau sekedar memfitnah seseorang demi keuntungan politik.
              Mari kita kembali ingat kisah itu,
        Ketika Tuhan menciptakan manusia yang akan menjadi khalifah di muka bumi, malaikat mempunyai firasat bahwa makhluk yang akan diciptakan oleh Allah SWT ini akan membuat kerusakan dan mereka pun akhirnya menyampaikan keberatannya.
            “Bagaimana bisa engkau akan menciptakan makhluk yang akan merusak bumi? Mereka akan menumpahkan darah sesamanya demi sebuah mahkota fana (Dan itu memang benar),” protes malaikat. 
            Lalu bagaimana jawabanNya? “Kalian masih belum tahu apa yang akan terjadi, jadi diam sajalah dan lihatlah apa yang terjadi kemudian.”
            Kemudian malaikat diadu keilmuannya dengan manusia pertama kali yang mana malaikat dibuat kagum oleh kecerdasan yang dimilikinya segingga membuat mereka mengucap tasbih dan mengetahui hikmah penciptaan Adam. Malaikat tahu bahwa manusialah makhluk yang paling cocok atas wewenang khalifah di muka bumi ini.
            Kita tahu bahwa manusia mempunyai potensi kemampuan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Ada seorang pelukis yang akan menjadi bodoh ketika dihadapkan dengan rumus-rumus matematika, ada seorang pesepakbola yang selalu kalah dalam permainan catur dan ada pula seorang fisikawan yang sama sekali tidak bisa menendang bola. Hal itu menunjukkan bahwa manusia mempunyai peran masing-masing dalam menjalani kehidupan sebagai khalifah di muka bumi ini dan itu sebuah keharusan.
            Saya teringat dengan pemikiran Karl Marx dan Emile Durkheim.
           Karl Marx menggunakan pendekatan konflik yang mana dalam kelanjutannya membenturkan antara kaum borjuis dengan proletar. Karl membenturkan keduanya seolah terjadi sebuah perang besar yang terjadi. Dan hal ini mirip sekali dengan pendekatan yang digunakan oleh malaikat pada peristiwa pencipataan Adam, membenturkan perilaku manusia dengan sekitarnya.
          Hal ini berbeda dengan Emile Durkheim yang menggunakan pendekatan fungsional yang mana dalam pemikiran beliau ada sebuah peran-peran yang harus diisi oleh manusia. Misal di bumi ini harus ada manusia yang menjadi dokter, polisi, petani, buruh pabrik dan lainnya. Karena kehidupan tidak akan berjalan jika hanya ada satu peran saja. Jika semua orang menjadi pengusaha, lalu siapa yang menajadi buruhnya? Hal ini mirip sekali dengan jawabanNya atas protes malaikat terkait penciptaan Adam, dimana Ia memiliki maksud-maksud yang tidak dapat dipahami oleh malaikat saat itu.
           Tapi ingat, saya tidak bilang bahwa malaikat pada waktu penciptaan Adam terpengaruh oleh marxisme loh ya. Terima kasih.


Comments