KISAH CINTA LIMAH DAN HAN (Part 1)




                         

       Malam itu di dalam kereta, Agam sedang sibuk dengan ponselnya, sementara aku memijat pungung kakek "Kalian mau mendengar kakek bercerita Sis, Gam?" Tidak usah di tanya dua kali Agam langsung mematikan ponselnya menatap kakek tidak sabaran, sementara aku pindah ke sebelah Agam untuk memberi kakek ruang lebih leluasa karena kakek akan bercerita, iya kakek akan bercerita dan ceritanya tidak pernah bohong. Kakek mengawali ceritanya dengan menghisap sebatang kretek.

"Sebut saja mak Ti, orang orang orang memangilnya demikian, adalah ibu dari lima anak, parasnya cantik sekali, lima tahun terakhir ini dia sudah menikah sebanyak  tiga kali, namun tidak ada anak dari pernikahan itu hanya menyisakan lima anak dari suami pertamanya. Mak Ti sangat gemar bersolek, bahkan andai kalian tahu ia memasang susuk di tujuh bagian tubuhnya, entah bagian mana saja, kelurga mak Ti tinggal di sebuah suku kecil di ujung jawa timur daerah dingin dan tidak ada sekolah"

"Dari lima anaknya adalah Limah anak tertua, gadis remaja berusia tiga belas tahun, mekar di daerah dingin itu, rambut panjangnya selalu di sanggul, bertubuh mungil, berkulit putih, berlesung pipit, dan amboi manis sekali senyumnya. Jika kalian bertemu Limah, kalian tidak akan meyangka bahwa ia adalah gadis dari suku kecil, atau gadis remaja yang setiap hari harus bekerja keras, mengurus empat adik sejak shubuh buta sampai larut malam saat adiknya, Asmo jatuh tertidur. Karena emaknya hanya pulang tiga jam sehari saja setelah itu pergi lagi"

"Kalau saja Limah anak kepala suku pasti namanya akan di kenal di setiap penjuru rumah, karena paras cantiknya, cerdas, pula amboi manis sekali senyumnya. Namun, lihatlah Limah hanya bisa ditemukan di dalam rumah sedang menggendong Asmo si kecil sembari memandikan dua adik kembarnya yang masih belita. Sementara jajan, adiknya yang paling besar sibuk menimba air.  kalian juga bisa menjumpai Limah di ladang sedang meneriaki dua adik kembarnya yang bertengkar sembari mencangkul tanah dan meninabobokan Asmo di punggungnya, atau mungkin kalian juga bisa menemui Limah di pasar kecamatan setiap pagi buta menjual getuk kentang setiap minggu"

"Begitulah kehidupan Limah dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun hingga cobaan itu datang, ketika Limah pulang meladang bersama adiknya, Limah mendapati sebuah dokar apik dengan kedua kuda putih yang cantik di depan rumah. siapakah gerangan? Mungkinkah orang dari kota?"

      Kakek berhenti sejenak, menghisap kretek yang separuh padam, Agam menatap tidak sabaran.

"Dan teryata benar dokar itu milik orang kota yang ingin memperistri Limah, namanya Cipto, pengawai Kebupaten, sangat kaya dan punya ratusan kuda, Cipto tidak jelek tapi perutnya amboi amat besar, usianya terpaut sembilan belas tahun dari Limah. Dengan dengus nafas yang mulai habis Limah mengepaki pakaianya. ia tidak sempat berfikir untuk menolak karena nanti pasti emaknya akan mengusirnya dari rumah, apalah daya gadis yang berusia tiga belas tahun ini, dengan dada yang sesak Limah ciumi Asmo dan kedua adik kembarnya bergantian yang ikut menangis tanpa sebab, sementara jajan menahan tangis dengan terus memeluk buntalan pakaian Limah"

      Kakek menghembuskan menarik nafas panjang, sementara aku dan agam menghembuskan nafas, ikut gelisah

"Limah pergi dari hadapan keempat adiknya, ia hampiri emaknya di ruang tamu, yang tersenyum bahagia, namun emaknya menangis ketika memeluk Limah bagaimanapun juga ia adalah ibunya, ia merasakan kembali pelukan emaknya yang sudah bertahun tahun hilang itu, ia hirup aroma emaknya dalam dalam seakan akan itulah pertemuan terakhir mereka, dan memang benar itulah terakhir kali Limah memeluk emaknya"

"Cipto membawa Limah ke kota kabupaten malam itu juga, Limah di beri pakaian terbaik oleh Cipto, ia di jamu ramah oleh pelayan rumah cipto, di nikahi secara sirih tanpa pengetahuan siapapun. Limah tidak tahu bahwa yang terjadi selanjutnya adalah siksaan yang amat perih, ia di kurung di bilik belakang rumah tanpa penerangan dan hanya di beri makan satu piring nasi tiwul sehari, ia hanya boleh keluar jika Cipto suaminya akan pulang, pelayan Cipto akan memandikanya, meriasnya sekian rupa untuk melayani Cipto, setelah selesai dengan urusan ranjangnya Cipto akan pergi ke rumah istri istrinya yang lain. Apakah Limah menangis? tidak sama sekali, ia telah berjanji pada emaknya bahwa ia akan bahagia, emaknya sendiri yang berkata, setiap akan menangis Limah akan mengigit bibirnya mengingat wajah lucu Asmo dan adik kembarnya, merasai pelukan emak, dan membayangkan bapaknya mengelus kepalanya.  itulah kekuatan Limah bertahun tahun"

"Kalian tahu, Sis, Agam" kakek menghela nafas panjang, ikut tertunduk dalam dalam menekuri meja di hadapannya “Dalam hidup ini, kita masih beruntung karena kita selalu punya banyak pilihan. Apapun masalah kita, tetap saja banyak pilihan solusi yang tersedia. Namun Limah tidak punya, pernikahan ini akan menjamin kehidupan keluarganya di desa, adik adiknya butuh makan, dan suaminya selalu mengirimi uang bulanan untuk kelurganya di kampung. Tapi Limah selalu percaya bahawa tuhan itu ada, suatu hari ia akan merubah takdirnya sampai saat itu datang" kakek memejamkan mata, mengenang

 " Pada suatu malam Cipto pulang dengan keadaan mabuk berat, ia tiduri Limah tanpa persetujuan darinya, Limah yang merasa kesakitan berusaha menolak Cipto dengan mendorong tubuh Cipto sampai terjungkal dari atas ranjang, Limah di pukuli habis habisan oleh Cipto malam itu hingga tubuh Limah tidak sadarkan diri, melihat kondisi tubuh Limah, Cipto mengira bahwa Limah telah mati, malam itu Cipto membuang tubuh Limah ke laut"

"Sampai leajaiban itu datang, Limah di temukan terombang ambing di laut oleh nelayan dari negri seberang, Limah di beri pelayanan terbaik oleh nelayan itu, dan itu adalah Han, Limah di bawa pulang oleh Han ke rumahnya, Han lahir dari keluarga miskin dan sekarang ia yatim piatu, ia tingga di pemukiman kumuh, air bersih terbatas, ventilasi rumah buruk, hawa panas, udara lembab, di situlah dimana ikan dan udang menjadi saksi bisu kisah cinta Limah dan Han"

     Kakek berhenti sejenah menoleh ke luar jendela, menghela nafas, aku dan han ikut menghela nafas, sementara malam semakin larut, kereta terus melaju, penumpang banyak yang tertidur

"Dan waktupun berjalan"

"Dua tahun berlalu, dengan pengalaman bekerja dan mengasuh empat adiknya Limah cukup tangguh, Han juga belum pernah menyakiti Limah sejauh ini. Dua tahun itu Limah belajar menjadi istri yang baik, melakukan apa saja yang bisa ia kerjakan, melayani suami sebaik mungkin, mencuci baju, membenahi jaring, menyiapkan makanan, dan selalu memasang wajah ceria karna Limah bahagia sekali bersama Han, pria asing ini sangat baik hati, sampai kabar baik itu datang, Limah melahirkan dua anak kembar sementara bisnis ikan Han sukses"

 "Mereka pindah dari pemukiman kumuh itu kerumah baru merekavdi tepi kota yang lebih bagus, Limah dan Han keluarga kecil yang bahagia, namun situasi memburuk saat pernikahan memasuki tahun ke tiga, dimana si kembar sudah mulai merangkak, entah mengapa Han tidak sebaik dulu pada Limah, ia sering membentak dan memarahi Limah karena hal hal kecil, namun Limah maklum karena mungkinHan lelah mengurus bisnis Ikannya, namun sebenarnya ada hal yang lebih dari itu"


     Kakek berhenti bercerita, karena kereta berhenti di stasiun dan menurunkan beberapa penumpang.


Bersambung...
Tunggu terus kelanjutan kisah cina Limah dan Ham setiap hari selasa ya sobat baca dunia,enjoy your day

Comments